Indramayu — Momentum Milad ke-27 Al-Zaytun menjadi ruang pertemuan berbagai tokoh dari latar belakang yang beragam. Salah satu sosok yang hadir adalah Ir. Ilham Aidit, yang memberikan pandangan mengenai perkembangan dan realisasi Al-Zaytun berdasarkan perspektifnya.
Dalam wawancara eksklusif, Ilham Aidit diajak melihat perjalanan Al-Zaytun bukan hanya dari sisi kelembagaan pendidikan, tetapi juga dari gagasan, karya, kehidupan sosial, serta hubungan dengan masyarakat yang terus berkembang.
“Bagaimana Anda melihat Al-Zaytun setelah 27 tahun?”
Ilham Aidit:
“Menurut saya, 27 tahun merupakan perjalanan yang cukup panjang. Yang menarik adalah bagaimana sebuah gagasan kemudian berusaha diwujudkan dalam bentuk nyata. Kita bisa melihat berbagai aktivitas dan pembangunan yang ada sebagai bagian dari proses tersebut.”
“Apa yang paling menarik perhatian Anda dari perkembangan Al-Zaytun?”
Ilham Aidit:
“Saya melihat ada upaya untuk membangun sebuah lingkungan pendidikan yang tidak hanya berbicara mengenai pendidikan formal, tetapi juga kehidupan sosial dan kemandirian. Tentu setiap gagasan dan implementasinya dapat dilihat secara kritis, didiskusikan, dan dievaluasi.”
“Bagaimana Anda memandang konsep keberagaman yang ditampilkan dalam kegiatan Milad ke-27?”
Ilham Aidit:
“Keberagaman adalah kenyataan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itu, ruang pertemuan seperti ini penting. Ketika orang-orang dari latar belakang yang berbeda dapat bertemu, berdialog, dan saling memahami, maka akan muncul kesempatan untuk membangun komunikasi yang lebih baik.”
“Apa arti Milad ke-27 bagi Anda?”
Ilham Aidit:
“Milad bukan sekadar memperingati bertambahnya usia sebuah lembaga. Ini juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali apa yang sudah dikerjakan, apa yang sudah berhasil diwujudkan, dan apa yang masih perlu diperbaiki ke depan.”
Perspektif tentang realisasi
Bagi Ilham Aidit, perjalanan Al-Zaytun selama 27 tahun dapat dipandang sebagai proses antara gagasan dan realisasi. Sebuah konsep, menurutnya, menjadi menarik ketika dapat diterjemahkan menjadi karya dan memberikan dampak dalam kehidupan nyata.
Kehadiran berbagai kalangan dalam Milad ke-27 juga memperlihatkan adanya ruang untuk bertemu dan berdialog. Perbedaan latar belakang tidak harus menjadi penghalang komunikasi, melainkan dapat menjadi sumber perspektif yang memperkaya pemahaman.
Milad ke-27 Al-Zaytun akhirnya bukan hanya menjadi catatan perjalanan sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga momentum untuk melihat bagaimana sebuah gagasan terus diuji oleh waktu, diwujudkan melalui karya, serta dinilai melalui kontribusinya bagi masyarakat.
